LGBT Dilegalkan di Indonesia? Part II




Apapun factor yang menyebabkan LGBT, seperti yang saya katakan di part I, semua itu adalah penyakit dan kelainan. Lalu bagaimana mengatasinya?



Mereka yang mengalami LGBT butuh bantuan untuk mengatasi hal itu. Semua penyakit dan kelainan itu adalah cobaan dan ujian. Problemnya adalah, ketika kita menemukan orang LGBT, hal yang dilakukan adalah mencaci, menghina, mengejek dan sejenisnya, kita  gak terima kalau ada jenis manusia seperti itu. Padahal mereka itu “sedang sakit”. Semua penyakit punya obatnya kecuali mati. Apakah bisa orang yang terkena penyakit kanker, stroke, gagal ginjal, dll mengatasi penyakit mereka sendiri? minimal orang stroke butuh bantuan untuk mengantarkan ke dokter . Apakah kita bisa menyalahkan Tuhan telah memberikan penyakit kanker dll? Kita menganggap itu adalah ujian.

Sama seperti mereka (LGBT), mereka gak bisa sendirian menghadapi penyakit itu, mereka butuh kita untuk membantu keluar dari permasalahan. Mereka (LGBT) sadar kalau mereka adalah salah, tapi mereka gak tau bagaimana cara mengatasinya, sama seperti jika anda disuruh membedah perut sendiri dan memotong usus karena suatu penyakit, anda  sendiri tidak paham bagaimana prosedur bedah.  Kasus LGBT bukan kasus kecil seperti zina yang sekali diceramahin langsung tobat, ini adalah kasus yang kompleks. Butuh tindakan lanjut seperti terapi dan sejenisnya.

Masalah yang lebih serius adalah, mereka yang mengalami LGBT, hampir tidak mau mengakui hal itu. Karena mereka takut dikucilkan dan dihina, jadilah mereka memilih diam dan menikmati kelainan itu. Ibaratkan kita sakit lalu ke dokter dan dokter mengatakan “siapa suruh sakit? Siapa suruh makan gak teratur? Udah tau makan indomie tiap hari gak bagus, masih aja dimakan” lebih kurang seperti itulah kalau LGBT mengakui tentang keadaan mereka.  Bagaimana bisa sembuh kalau tidak diobati?

Berada di lingkungan religious juga tidak menjamin seseorang untuk tidak terkena LGBT, seperti yang pernah saya baca disuatu artikel tentang kehidupan seorang gay.  Dia sendiri tidak paham kenapa seiring waktu dia punya ketertarikan terhadap sesama jenis, dan dia sadar itu adalah hal yang salah, diam adalah hal yang terbaik baginya dari pada jujur tapi akan menimbulkan masalah.  

LGBT jelas salah karena telah menentang norma social dan masyarakat, dari sudut pandang agama apalagi, jelas dikatakan haram. Tapi menjadi LGBT juga bukan merupakan suatu pilihan, seperti yang saya katakan tadi, mereka juga gak mau menjadi seperti itu. Menurut saya, peran masayarakat, keluarga, dan pemerintah sangatlah penting. Mungkin pemerintah bisa mengadakan rehabilitasi untuk para LGBT atau edukasi terhadap masyarakat bagaimana cara terhindar dari lingukungan LGBT, bagaimana menghadapi mereka (LGBT), dan apapun tentang LGBT.

Saya paham jika kita yang normal bergaul dengan mereka (LGBT) takut menjadi “sasaran”. Disinilah peran edukasi kepada masyarakat tentang menghadapi atau berhadapan dengan mereka (LGBT) sangat dibutuhkan. Diadakan rehabilitasi dan edukasi pun tidak membuat Indonesia 100% bersih dari LGBT, ada BNN saja narkotika masih beredar liar, tapi setidaknya dengan hal itu kasus ini bisa dikurangi dan bisa menjadi celah terang untuk mereka yang ingin berubah. Pemerintah sudah seharusnya tegas dalam hal ini mengingat Indonesia adalah Negara ber-Tuhan.

Ini pendapat saya, silahkan jika anda tidak setuju. Saya tidak mendukung adanya LGBT, saya hanya ingin anda melihat sesuatu tidak hanya dari satu sisi, tidak mudah untuk men-judge, dan memiliki open minded.  Pandang mereka sebagai makhluk Tuhan, urusan agama biarlah hanya menjadi urusan  mereka dengan Tuhan, dan karena kita bukan Tuhan, kita tidak seharusnya men-judge dan menghukum mereka. Dengan anda tidak men-judge atau menghina, anda sudah menolong mereka dengan tidak membuat keadaan lebih buruk. 

2 komentar

  1. Yahuutt kak... help them not make a sins right?jadi jgn lgsg ngejudge mereka langsung, bukannya kita pro sama mereka, tp bantu mereka buat sembuh dr penyakit mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ada yang nyampe pikirannya, kebanyakan orang ketika saya berbicara seperti ini, mereka menganggap saya pro :D

      Hapus